Minggu, 20 Mei 2018

BELAJAR ISTIQOMAH SELAMA BULAN SUCI RAMADHAN # 1 (Tulisan ke-8)

Masih ingatkah Anda dengan cerita tentang seorang anak muda yang menginginkan perubahan diri secara berkesinambungan/konsisten terutama dalam hal peningkatan amal ibadah namun yang dapat dicapai hanya perubahan sementara/temporer saja yaitu ketika memasuki bulan Ramadhan saja?. Setelah kepergian bulan Ramadhan, amal ibadahnya turun kembali ke keadaan semula (Baca Tulisan ke-4: Istiqomah Dalam Perubahan Diri).

Kondisi seperti tersebut diatas dapat juga dialami oleh umat islam lainnya, bahkan mungkin dengan kualitas yang berbeda, misalnya peningkatan amal ibadah hanya terjadi di saat awal memasuki bulan Ramadhan saja, dan kemudian terjadi penurunan di pertengahan ataupun di akhir bulan Ramadhan. Indikator sederhananya dapat kita lihat dari ukuran banyaknya saf di masjid pada saat pelaksanaan sholat wajib/tarawih berjamaah selama bulan Ramadhan.  Kenapa hal itu bisa terjadi?

Bukankah bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa dimana pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.  Allah -subhanahu wa ta'ala- juga memberikan begitu banyak keutamaan bagi kita yang melaksanakan amal ibadah di bulan Ramadhan ini, antara lain dilipatgandakannya pahala amal ibadah/amal sholeh, dosa-dosa diampuni serta doa-doa dikabulkan.

Sehingga orang-orang yang beriman akan tergerak/termotivasi untuk berlomba-lomba melaksanakan dan meningkatkan amal ibadahnya, baik yang wajib maupun yang sunnah.  Bulan Ramadhan ini juga dijadikan Allah -subhanahu wa ta'ala- sebagai sarana untuk melatih/menempa orang-orang yang beriman agar bisa memiliki sikap istiqomah -yang merupakan kunci untuk meraih  perubahan diri secara berkesinambungan/konsisten- sebagai bekal dalam menjalani cobaan dan tantangan hidup di 11 bulan berikutnya.

Istiqomah itu sendiri di dalam kamus besar Bahasa Indonesia memiliki arti sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Tentunya teguh pendirian/konsekuen yang dimaksud dalam hal melakukan kebaikan demi meraih ridho dari Allah -subhanahu wa ta'ala-Istiqomah muncul dari suatu proses pelaksanaan amal ibadah yang dilakukan secara rutin/terus-menerus, disertai proses introspeksi diri secara kontinyu baik secara kuantitas maupun kualitas sehingga akan membentuk kedisiplinan diri.

Proses introspeksi diri ini merupakan bagian penting untuk meraih sikap istiqomah, karena dengan introspeksi itulah kita akan selalu dapat memperbaiki serta menyempurnakan niat dan amal ibadah/tindakan kita (Baca Tulisan ke-7: Momentum Perubahan Diri Tercipta Dari Kontinuitas Amalan/Tindakan). Di bulan suci Ramadhan ini kita seharusnya dapat dengan mudah melakukan introspeksi (menilai,  mengenal dan memahami) diri kita, mengingat setan-setan diikat dan dibelenggu, sehingga penurunan amal ibadah atau kualitas keimanan seseorang yang terjadi di bulan Ramadhan ini lebih disebabkan oleh faktor hawa nafsu dan rasa malas yang ada pada diri seseorang.

Istiqomah inilah yang nantinya akan menghasilkan gerakan yang dibutuhkan dalam mempertahankan dan memperbesar momentum perubahan diri (Baca Tulisan ke-6: Ciptakan Momentum Terbesar Dalam Perubahan Diri). Sehingga nantinya tatkala kita dihadapkan pada suatu halangan/uzur tertentu, misalnya sakit atau safar (dalam perjalanan), yang mengakibatkan kita tidak dapat melaksanakan amalan rutin tersebut, namun gerakan/pahalanya tetap ada, sebagaimana hadits Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wasallam- yang artinya:  Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” 

Semoga Allah -subhanahu wa ta'ala- selalu memberi taufiq dan hidayahNya kepada kita sehingga kita dapat mengambil ilmu dan hikmah selama menjalani aktivitas di bulan suci Ramadhan ini, terutama dalam melatih diri untuk tetap istiqomah/teguh pendirian/konsisten dalam melaksanakan amal ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah demi meraih ridho dari Allah -subhanahu wa ta'ala-. Aamiin… Aamiin… Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin…



“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al-Ahzab [33] : 35).



Baca Tulisan Lainnya:

Selasa, 15 Mei 2018

MOMENTUM PERUBAHAN DIRI TERCIPTA DARI KONTINUITAS AMALAN/TINDAKAN (Tulisan ke-7)

Pada postingan Saya sebelumnya terkait Momentum Perubahan Diri (Baca Tulisan ke-6: Ciptakan Momentum Terbesar Dalam Perubahan Diri), dapat digaris bawahi bahwa untuk memulai perubahan diri, kita harus menciptakan Momentum. Waktu yang tepat untuk menciptakan Momentum adalah SEKARANG, saat dimana kita memutuskan untuk memulai Perubahan Diri.  Lantas, bagaimana cara menciptakan Momentum Perubahan Diri?.

Salah satu cara/metode yang bisa kita gunakan adalah melalui konsep Muhasabah Diri dan Amal (MDA). Dalam konsep ini, terdapat 3 tahapan yang harus dilakukan, yaitu: 1) penyusunan rencana (sebagai manifestasi niat/kemauan), 2) pelaksanaan/realisasi rencana dalam bentuk tindakan/amal perbuatan serta 3) introspeksi diri secara kontinyu. 

Sebelum kita memulai suatu tindakan/perbuatan/amalan maka harus diawali dengan niat, sebagaimana hadits Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wasallam- yang artinya: “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung niatnya dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan ....”. Niat tersebut dalam konsep MDA ini haruslah dituangkan ke dalam bentuk catatan/tulisan berupa penyusunan rencana/target (Baca Tulisan ke-5: Tetapkan Rencana Dalam Perubahan Diri).  

Mengapa demikian? Hal ini bertujuan untuk memudahkan proses penyelarasan antara niat dengan implementasinya (amalan/tindakan) serta mempermudah proses introspeksi/evaluasi diri.  Setelah rencana ditetapkan, maka langkah berikutnya adalah mengimplementasikan rencana tersebut dalam bentuk amalan/tindakan.  Dalam pelaksanaan amalan/tindakan yang menjadi tolak ukur bukanlah besarnya amalan/tindakan, tetapi terletak pada adanya kontinuitas/kesinambungan/istiqomah dalam pelaksanaan amalan/tindakan tersebut. 

Allah -subhanahu wa ta'ala- tidak melihat besar kecilnya suatu amalan, walaupun amalan yang kita kerjakan itu kecil/sedikit tetapi istiqamah itu jauh lebih baik dari pada amalan yang besar/banyak tetapi hanya dilakukan sesaat, sebagaimana hadits Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wasallam- yang artinya: “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah -subhanahu wa ta'ala- adalah amal yang terus-menerus/kontinu dikerjakan meskipun sedikit.” Ada juga peribahasa yang berbunyi “Sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit” yang memiliki makna bahwa usaha/upaya kecil yang dilakukan secara terus-menerus/kontinu pasti akhirnya akan memberikan hasil.

Dengan melalui tahapan 1 dan 2 saja, sebenarnya Momentum Perubahan Diri telah tercipta. Hal ini sesuai dengan penyesuaian rumus Momentum Perubahan Diri itu sendiri yaitu rencana (niat/kemauan) dikalikan tindakan (realisasi rencana).  Namun, dalam prakteknya banyak faktor yang berasal dari dalam diri maupun faktor luar yang turut menghalangi dan menghambat diri kita untuk dapat merealisasikan rencana yang telah kita buat. 

Untuk itu kita membutuhkan tahapan berikutnya (tahapan ke-3) yaitu introspeksi diri secara kontinyu, sebagai bentuk refleksi dalam mengenal diri, memahami diri, mengetahui kelebihan dan kelemahan diri serta sebagai bentuk kompromi dengan diri sendiri.  Dengan melaksanakan introspeksi diri secara kontinyu insya allah kita akan selalu dapat memperbaiki serta menyempurnakan niat dan amalan/tindakan kita demi meraih ridho dari Allah -subhanahu wa ta'ala-.

Sabtu, 05 Mei 2018

CIPTAKAN MOMENTUM TERBESAR DALAM PERUBAHAN DIRI (Tulisan ke-6)

Dari beberapa postingan Saya sebelumnya terkait perubahan diri, muncul 2 pertanyaan penting yang perlu dijawab sebelum melanjutkan membaca tulisan ini: 1) Sudahkah kita merencanakan perubahan diri kita ke arah yang lebih baik? 2) Kapan saat yang tepat bagi kita untuk merencanakan/memulai perubahan diri kearah yang lebih baik?

Untuk pertanyaan pertama, masing-masing kita dapat menjawabnya secara pribadi sedangkan untuk pertanyaan kedua, masing-masing kita pastinya akan memiliki jawaban yang berbeda-beda. Namun menurut Saya, saat yang tepat bagi kita untuk merencanakan/memulai perubahan diri adalah SEKARANG!!!… ya… benar… “Sekaranglah waktunya untuk merencanakan perubahan diri kita, “Sekaranglah Momentum bagi kita untuk memulai perubahan diri.

Memang, seringkali kita menggunakan waktu-waktu tertentu sebagai Momentum perubahan diri atau peningkatan kualitas diri, misalnya Momentum hari ulang tahun (saat bertambahnya usia), Momentum tahun baru (Masehi/Hijriyah) dan Momentum bulan suci ramadhan (bulan puasa), mengapa demikian?...

Hal ini antara lain karena “kesadaran diri” kita pada waktu-waktu tersebut meningkat, kesadaran tersebut meliputi: kesadaran akan pentingnya waktu, kesadaran melihat masa lalu sebagai sejarah untuk diambil hikmahnya, kesadaran untuk berubah, kesadaran untuk berbuat yang lebih baik (kebaikan) maupun kesadaran lainnya.

Namun, kebanyakan dari kita tidak mampu memanfaatkan Momentum tersebut, kesadaran yang muncul saat kita bertambah usia, saat mengawali tahun baru Masehi/Hijriyah atau di saat bulan suci ramadhan, tidaklah mampu kita pertahankan. Kesadaran yang tercipta saat itu tidak mampu mengantarkan kita kepada suatu sikap disiplin/keteguhan diri/konsistensi diri/istiqomah.

Untuk bisa mendapatkan manfaat maksimal terhadap Momentum, maka kita harus memahami konsep mengenai Momentum itu sendiri.  Apa itu Momentum? Dalam kamus besar Bahasa Indonesia Momentum memiliki 3 arti yaitu: 1) saat yang tepat 2) kesempatan dan 3) dalam istilah Fisika, diartikan sebagai besaran yang berkaitan dengan benda yang besarnya sama dengan hasil kali massa benda yang bergerak itu dan kecepatan geraknya; kuantitas gerak. 

Dalam konsep fisika, Momentum muncul karena ada benda yang bergerak, rumus momentum itu sendiri adalah p (Momentum) = m (massa benda) x v (kecepatan benda). Momentum akan semakin besar jika massa dan kecepatannya semakin besar. Begitupula sebaliknya, semakin kecil massa dan kecepatan suatu benda maka akan semakin kecil pula Momentumnya. 

Senada dengan konsep tersebut, jika massa diibaratkan seperti rencana (niat/kemauan) dan kecepatan diibaratkan seperti tindakan (realisasi rencana), maka semakin besar rencana (niat/kemauan) serta tindakan (realisasi rencana) maka Momentum yang dihasilkan akan semakin besar. Begitupun sebaliknya, semakin kecil rencana (niat/kemauan) dan tindakan (realisasi rencana) maka semakin kecil pula Momentumnya. 

Sebagai contoh, di bulan suci Ramadhan (yang tinggal beberapa hari lagi),  Momentum Perubahan Diri dan Amal Ibadah yang tercipta saat itu biasanya cukup besar seiring dengan besarnya niat/kemauan (yang terbesit dalam pikiran) serta tindakan kita yang berupa pelaksanaan amal ibadah.  Pada saat itu kita melakukan Ibadah Wajib yaitu berpuasa sebulan penuh, sholat 5 waktu berjamaah dan mengeluarkan Zakat ditambah dengan pelaksanaan ibadah sunnah seperti Sholat Tarawih, Sholat Rawatib, Sholat Dhuha, Sholat Tahajjud, Sholat Witir, mengaji dan mengkaji Al-Quran, Bersedekah serta amalan sunnah lainnya.

Momentum yang telah tercipta ini akan tetap ada dan terus membesar jika kita tetap mempertahankan gerakan/tindakan kita.  Gerakan terus menerus yang kita lakukan inilah yang akan menciptakan momentum bagi diri kita untuk mencapai tujuan yang diinginkan (sukses dunia dan akhirat).  Sekali kita berhenti, maka kita akan membutuhkan tenaga yang lebih besar untuk bergerak kembali.  

Untuk itu, agar kita dapat menciptakan Momentum Terbesar dalam Perubahan Diri dan Amal Ibadah, maka kita dapat menuangkan niat/kemauan yang terbesit dalam pikiran kedalam bentuk catatan/tulisan (perencanaan) secara berkesinambungan dengan memanfaatkan cara/alat/ metode/panduan dalam Muhasabah Diri dan Amal (MDA) sebagai alat untuk menggerakkan/melatih sikap disiplin/keteguhan diri/konsistensi diri/istiqomah yang ada pada diri kita menuju perubahan diri yang lebih baik sebagai wujud pendekatan diri kita kepada Allah -subhanahu wa ta'ala-. Insya Allah.

Senin, 09 April 2018

TETAPKAN RENCANA DALAM PERUBAHAN DIRI (Tulisan ke-5)

Dalam konsep Muhasabah Diri dan Amal (MDA) sebagaimana tertera pada postingan sebelumnya (Baca Tulisan ke-3: Rencanakan, Realisasikan dan Introspeksikan Perubahan Diri Anda), pada Tabel MDA kita diharuskan mampu untuk membuat atau menetapkan suatu rencana.  Mengapa demikian?. 

Rencana/perencanaan merupakan proses awal/dasar dimulainya suatu tindakan untuk mencapai tujuan tertentu, dengan kata lain tindakan itu diawali dari suatu rencana/perencanaan. Rencana dapat dengan mudah muncul/tergambar/terbesit dalam pikiran/otak kita namun alangkah baiknya apabila rencana tersebut kita tuliskan atau catat secara sistematis. 

Para ilmuwan mengatakan, jumlah pikiran dalam otak kita setiap harinya adalah 60.000 pikiran, bayangkan jika kita memiliki sejumlah rencana dalam pikiran dan tidak dituliskan atau dicatat secara sistematis, maka dapat dipastikan rencana tersebut akan berbaur dengan pikiran lainnya sehingga mudah terdistorsi dan kehilangan fokus.

Berbeda halnya apabila rencana yang ada dalam pikiran, kita tuangkan kedalam bentuk catatan/tulisan (perencanaan yang matang) maka pikiran kita akan lebih terarah dan fokus untuk kemudian diterjemahkan melalui tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.  

Untuk urusan dunia, mungkin masing-masing kita telah memiliki banyak pengalaman dalam menyusun suatu perencanaan yang matang mulai dari urusan keluarga, studi, pekerjaan, organisasi, bisnis, pernikahan dan lain sebagainya.  Nah, alangkah lebih baiknya lagi jika kita mampu membuat suatu rencana atau perencanaan yang matang untuk urusan Akhirat kita.   

Di Tabel Muhasabah Diri dan Amal (MDA) ini, kita akan dilatih untuk membuat rencana/perencanaan serta belajar istiqomah dalam penetapan target amal ibadah sebagai wujud pendekatan diri kita kepada Allah -subhanahu wa ta'ala- . Insya Allah.



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ


Jumat, 30 Maret 2018

ISTIQOMAH DALAM PERUBAHAN DIRI (Tulisan ke-4)

Ada seseorang anak muda yang usianya hampir mendekati 30 tahun, memiliki rencana (dalam bentuk niat dan cita-cita) agar di pergantian usianya dari kepala 2 (20an) menjadi kepala 3 (30an), harus ada perubahan positif terutama dalam hal peningkatan ibadah kepada Allah -subhanahu wa ta'ala-. Rencana (dalam bentuk niat dan cita-cita) tersebut hanya terbesit atau dinyatakan dalam pikiran/otak saja, tanpa dibuat secara tertulis atau tercatat secara sistematis.

Seiring waktu berlalu, menginjak usia 30 tahun, rencana dalam pikirannya tersebut terdistorsi dengan pikiran lainnya sehingga dirinya gagal fokus dalam merealisasikan rencana tersebut.  Alhasil, pada usia 30 tahun sampai beberapa tahun berikutnya dirinya belum mampu melakukan perubahan diri seperti yang diinginkan.

Perubahan yang terjadi pada anak muda tersebut hanya bersifat sementara/temporer yaitu ketika memasuki bulan Ramadhan. Perubahan positif pada dirinya ditandai dengan meningkatnya amal ibadah baik secara kuantitas maupun kualitas. Namun seiring kepergian bulan Ramadhan, amal ibadahnya turun kembali ke keadaan semula.

Mungkin sebagian dari kita memiliki cerita dan kondisi yang mirip dengan cerita diatas. Kenapa perubahan diri secara berkesinambungan tidak tercipta? Ternyata, Perubahan tidak terjadi secara instan dan kebetulan.  Untuk meraih perubahan yang positif maka rencana (dalam bentuk niat dan cita-cita) saja tidak cukup, tapi rencana tersebut harus dituangkan secara tertulis atau tercatat secara sistematis, direalisasikan dalam bentuk tindakan serta dilakukan introspeksi diri secara kontinyu.

Pada postingan Saya sebelumnya yang berjudul “Rencanakan, Realisasikan dan Introspeksikan Perubahan Diri Anda (Baca Tulisan ke-3: Rencanakan, Realisasikan dan Introspeksikan Perubahan Diri Anda), Anda akan menemukan sebuat alat/tool untuk merencanakan perubahan diri yang berkesinambungan ke arah yang lebih baik” yang dinamakan “Tabel Muhasabah Diri dan Amal (MDA).  Nah, didalam Program/Tabel MDA tersebut telah mengintegrasikan ketiga hal tersebut, yaitu 1) niat/rencana; 2) pelaksanaan/realisasi; serta 3) evaluasi/introspeksi.  

Salah satu kunci sukses dalam hidup dunia dan akhirat adalah sikap konsisten/istiqomah/teguh pendirian dalam beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta'ala-. Bukankah Allah telah berfirman bahwa tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah pada-Nya (QS. Adz-Dzariyat [51] : 56).  Seorang muslim harus senantiasa berusaha untuk konsisten/istiqomah/teguh pendirian dalam beribadah, walaupun hal ini tidaklah mudah. Tabel MDA ini merupakan salah satu alat bagi kita untuk belajar kedisiplinan/konsistensi/kesinambungan/istiqomah dan sebagai cermin untuk melihat kekuatan dan kelemahan diri kita.  Insya Allah.


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat [41] : 30)


Baca Tulisan Lainnya:

Kamis, 18 Januari 2018

RENCANAKAN, REALISASIKAN DAN INTROSPEKSIKAN PERUBAHAN DIRI ANDA (Tulisan ke-3)

Perubahan merupakan suatu rangkaian proses perencanaan dan tindakan yang konsisten. Perubahan tidak terjadi secara instan dan kebetulan, tetapi harus direncanakan. Jika kita menginginkan perubahan diri yang berkesinambungan ke arah yang lebih baik (positif) maka diperlukan perencanaan, pelaksanaan/realisasi rencana dalam bentuk tindakan serta introspeksi diri secara kontinyu.

Pada 2 postingan sebelumnya, telah Saya jelaskan terkait Introspeksi Diri (Baca Tulisan ke-1: Introspeksi Akhir Tahun 2017dan terkait perubahan diri yang lebih baik/positif (Baca Tulisan ke-2: Perubahan Diri yang Lebih Baik (Positif) di Tahun 2018). Untuk postingan kali ini Saya akan memberikan salah satu alat/tools yang bisa digunakan untuk merencanakan, merealisasikan rencana serta mengintrospeksi diri terutama dalam hal amal ibadah.

Alat/tools itu  Saya namakan “TABEL MUHASABAH DIRI DAN AMAL (MDA)” Versi 1.0 dengan format microsoft excel yang diilengkapi dengan petunjuk pengisian/cara penggunaannya. Tahapan dalam pengisiannya mengakomodir 6 tahapan/langkah/cara menuju perubahan diri yang lebih baik sebagaimana tercantum pada postingan sebelumnya. Anda dapat mendownload/mengunduhnya pada link berikut ini: 

Unduh dalam Format Excel 97-2003 (.xls) = Download

Unduh dalam Format Excel 2007-2013 (.xlsx)  = Download

Muhasabah dalam kamus besar bahasa indonesia diartikan sebagai introspeksi yang  berarti peninjauan atau koreksi terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya) diri sendiri; mawas diri.  Hakekat muhasabah tidak hanya terkait dengan mengingat dosa-dosa yang telah lalu kemudian menyesalinya, tapi juga memaksakan diri untuk taat melaksanakan semua perintah Allah -subhanahu wa ta'ala- dan menjauhi segala larangannya. 

Allah -subhanahu wa ta'ala- memerintahkan kita untuk merencanakan dan mengevaluasi diri sebagaimana tercantum dalam Al Quran Surah Al-Hasyr [59] : 18, yang berbunyi:

ياأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ( الحشر: 18)

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". 

Umar bin Al Khatab RA pernah berkata: “Haasibuu Anfusakum Qobla An Tuhasabu” yang artinya hisab/hitunglah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab/dihitung di hadapan Allah -subhanahu wa ta'ala-. Oleh karena itu kita perlu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal ibadah. Sehingga pada saat nanti kita dihitung (dihisab) dihadapan Allah -subhanahu wa ta'ala- insyaalllah kita tergolong  orang-orang yang beruntung. Aamin yaa rabbal ‘aalamiin. 



Baca Tulisan Lainnya:

Sabtu, 06 Januari 2018

PERUBAHAN DIRI YANG LEBIH BAIK (POSITIF) DI TAHUN 2018 (Tulisan ke-2)

“Semoga Tahun 2018 ini lebih baik dari Tahun 2017”.  Apakah ungkapan/doa tersebut merupakan harapan dan keinginan Anda juga di Tahun Baru 2018 ini?...  Dalam menyambut Tahun Baru 2018 tentunya kita memiliki sejumlah harapan dan keinginan. Sebagian kecil harapan dan keinginan tersebut mungkin telah kita raih di Tahun 2017, namun sebagian besar lainnya masih belum tercapai, kenapa? karena keinginan yang kita miliki sangat banyak dan tidak terbatas sedangkan kemampuan dan waktu kita dalam mewujudkannya sangatlah terbatas. 

Nah, ungkapan/doa tersebut diatas dapat mencakup semua harapan dan keinginan kita yang jumlahnya tidak terbatas.  Kalimat ”lebih baik” bisa meliputi berbagai sisi, baik itu keimanan, keilmuan, kesehatan, kedisiplinan, rezeki, finansial, karir dan lain-lain.  Lantas, apa makna yang terkandung dalam ungkapan/doa tersebut?  Ya…. maknanya terletak pada adanya “Perubahan Diri” ke arah yang lebih baik (positif) dari tahun sebelumnya. 

Perubahan Diri tidak selalu menuju ke arah yang lebih baik (positif) saja, namun dapat juga menuju ke arah yang lebih buruk (negatif) ataupun tidak ada perubahan sama sekali alias tetap (stagnan). Ketiga arah perubahan diri tersebut baik positif, stagnan maupun negatif memiliki konsekuensi masing-masing yaitu beruntung, merugi dan celaka, sebagaimana hadits Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wasallamyang artinya: “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka”.

Setiap orang pasti menginginkan keberuntungan (keberhasilan, kesuksesan dan kebahagiaan) dalam hidupnya baik di dunia maupun di akhirat.  Untuk itu Perubahan Diri yang berkesinambungan ke arah yang lebih baik (positif) mutlak diperlukan, jika tidak ingin masuk dalam kategori merugi atau celaka.  Mengingat Tahun Baru 2018 merupakan momentum yang sangat pas dan tepat untuk Perubahan Diri, maka sudah saatnya kita belajar dalam menentukan dan mengukur Perubahan Diri kita di Tahun 2018 ini.

Bagaimana caranya agar kita dapat menentukan dan mengukur Perubahan Diri kita?, Berikut ini 6 tahapan/langkah/cara yang dapat kita lakukan untuk menuju perubahan diri yang lebih baik di Tahun 2018 ini: 
1.  Tetapkanlah tujuan/resolusi Anda di Tahun 2018 ini, misalnya: (1) meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah -subhanahu wa ta'ala-, (2) meningkatkan kecintaan terhadap Al Qur’an, (3) meningkatkan kesehatan diri dan (4) meningkatkan wawasan dan keilmuan.
2.    Susunlah jenis aktivitas yang lebih detail/terperinci untuk masing-masing tujuan/resolusi tersebut, misalnya:
- Untuk resolusi ke-1 jenis aktivitasnya antara lain: Sholat Berjamaah, Sholat Dhuha, Sholat Tahajjud.
- Untuk resolusi ke-2 jenis aktivitasnya antara lain: Membaca Al Qur’an, Menghafal Al Qur’an.
-  Untuk resolusi ke-3 jenis aktivitasnya antara lain: Jalan, Jogging.
-  Untuk resolusi ke-4 jenis aktivitasnya antara lain: Membaca Buku.
3.    Buatlah komitmen diri Anda untuk masing-masing jenis aktivitas tersebut, misalnya:
- Untuk aktivitas pada resolusi ke-1, contoh komitmennya antara lain: Melaksanakan Sholat Wajib Berjamaah 5 waktu setiap hari, Melaksanakan Sholat Dhuha minimal 2 Rakaat setiap hari, Melaksanakan Sholat Tahajjud minimal 2 Rakaat setiap hari.
- Untuk aktivitas pada resolusi ke-2, contoh komitmennya antara lain: Membaca Al Qur'an minimal 1 Lembar setiap hari, Menghafal  Al Qur'an minimal 1 ayat setiap hari.
- Untuk aktivitas pada resolusi ke-3, contoh komitmennya antara lain: Melaksanakan jalan sehat dan jogging minimal 10 menit setiap hari.
- Untuk aktivitas pada resolusi ke-4, contoh komitmennya antara lain: Membaca 1 judul buku setiap minggu.
4.  Tetapkan target minimal maupun target pribadi untuk masing-masing aktivitas tersebut secara harian/mingguan/bulanan.
5.  Setelah target ditulis/ditetapkan maka tulislah hasil pelaksanaan/realisasi dari target masing-masing aktivitas secara disiplin setiap hari.
6.  Lakukan evaluasi internal terkait pencapaian diri kita terhadap pelaksanaan target  masing-masing aktivitas tersebut setiap hari/mingguan/bulanan.


Dengan melakukan 6 tahapan diatas insya allah kita dapat lebih memahami dan mengenal diri kita, mengetahui kelebihan dan kelemahan diri kita, mengembangkan potensi diri kita, meningkatkan disiplin diri kita  dan lebih mendekatkan diri kepada Allah -subhanahu wa ta'ala-.  Semoga kita tergolong ke dalam orang-orang yang beruntung baik di dunia dan di akhirat. Aamin yaa rabbal ‘aalamiin. Semoga bermanfaat….



Baca Tulisan Lainnya: