Senin, 09 April 2018

TETAPKAN RENCANA DALAM PERUBAHAN DIRI (Tulisan ke-5)

Dalam konsep Muhasabah Diri dan Amal (MDA) sebagaimana tertera pada postingan sebelumnya (Baca Tulisan ke-3: Rencanakan, Realisasikan dan Introspeksikan Perubahan Diri Anda), pada Tabel MDA kita diharuskan mampu untuk membuat atau menetapkan suatu rencana.  Mengapa demikian?. 

Rencana/perencanaan merupakan proses awal/dasar dimulainya suatu tindakan untuk mencapai tujuan tertentu, dengan kata lain tindakan itu diawali dari suatu rencana/perencanaan. Rencana dapat dengan mudah muncul/tergambar/terbesit dalam pikiran/otak kita namun alangkah baiknya apabila rencana tersebut kita tuliskan atau catat secara sistematis. 

Para ilmuwan mengatakan, jumlah pikiran dalam otak kita setiap harinya adalah 60.000 pikiran, bayangkan jika kita memiliki sejumlah rencana dalam pikiran dan tidak dituliskan atau dicatat secara sistematis, maka dapat dipastikan rencana tersebut akan berbaur dengan pikiran lainnya sehingga mudah terdistorsi dan kehilangan fokus.

Berbeda halnya apabila rencana yang ada dalam pikiran, kita tuangkan kedalam bentuk catatan/tulisan (perencanaan yang matang) maka pikiran kita akan lebih terarah dan fokus untuk kemudian diterjemahkan melalui tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.  

Untuk urusan dunia, mungkin masing-masing kita telah memiliki banyak pengalaman dalam menyusun suatu perencanaan yang matang mulai dari urusan keluarga, studi, pekerjaan, organisasi, bisnis, pernikahan dan lain sebagainya.  Nah, alangkah lebih baiknya lagi jika kita mampu membuat suatu rencana atau perencanaan yang matang untuk urusan Akhirat kita.   

Di Tabel Muhasabah Diri dan Amal (MDA) ini, kita akan dilatih untuk membuat rencana/perencanaan serta belajar istiqomah dalam penetapan target amal ibadah sebagai wujud pendekatan diri kita kepada Allah -subhanahu wa ta'ala- . Insya Allah.



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ


Jumat, 30 Maret 2018

ISTIQOMAH DALAM PERUBAHAN DIRI (Tulisan ke-4)

Ada seseorang anak muda yang usianya hampir mendekati 30 tahun, memiliki rencana (dalam bentuk niat dan cita-cita) agar di pergantian usianya dari kepala 2 (20an) menjadi kepala 3 (30an), harus ada perubahan positif terutama dalam hal peningkatan ibadah kepada Allah -subhanahu wa ta'ala-. Rencana (dalam bentuk niat dan cita-cita) tersebut hanya terbesit atau dinyatakan dalam pikiran/otak saja, tanpa dibuat secara tertulis atau tercatat secara sistematis.

Seiring waktu berlalu, menginjak usia 30 tahun, rencana dalam pikirannya tersebut terdistorsi dengan pikiran lainnya sehingga dirinya gagal fokus dalam merealisasikan rencana tersebut.  Alhasil, pada usia 30 tahun sampai beberapa tahun berikutnya dirinya belum mampu melakukan perubahan diri seperti yang diinginkan.

Perubahan yang terjadi pada anak muda tersebut hanya bersifat sementara/temporer yaitu ketika memasuki bulan Ramadhan. Perubahan positif pada dirinya ditandai dengan meningkatnya amal ibadah baik secara kuantitas maupun kualitas. Namun seiring kepergian bulan Ramadhan, amal ibadahnya turun kembali ke keadaan semula.

Mungkin sebagian dari kita memiliki cerita dan kondisi yang mirip dengan cerita diatas. Kenapa perubahan diri secara berkesinambungan tidak tercipta? Ternyata, Perubahan tidak terjadi secara instan dan kebetulan.  Untuk meraih perubahan yang positif maka rencana (dalam bentuk niat dan cita-cita) saja tidak cukup, tapi rencana tersebut harus dituangkan secara tertulis atau tercatat secara sistematis, direalisasikan dalam bentuk tindakan serta dilakukan introspeksi diri secara kontinyu.

Pada postingan Saya sebelumnya yang berjudul “Rencanakan, Realisasikan dan Introspeksikan Perubahan Diri Anda (Baca Tulisan ke-3: Rencanakan, Realisasikan dan Introspeksikan Perubahan Diri Anda), Anda akan menemukan sebuat alat/tool untuk merencanakan perubahan diri yang berkesinambungan ke arah yang lebih baik” yang dinamakan “Tabel Muhasabah Diri dan Amal (MDA).  Nah, didalam Program/Tabel MDA tersebut telah mengintegrasikan ketiga hal tersebut, yaitu 1) niat/rencana; 2) pelaksanaan/realisasi; serta 3) evaluasi/introspeksi.  

Salah satu kunci sukses dalam hidup dunia dan akhirat adalah sikap konsisten/istiqomah/teguh pendirian dalam beribadah kepada Allah -subhanahu wa ta'ala-. Bukankah Allah telah berfirman bahwa tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah pada-Nya (QS. Adz-Dzariyat [51] : 56).  Seorang muslim harus senantiasa berusaha untuk konsisten/istiqomah/teguh pendirian dalam beribadah, walaupun hal ini tidaklah mudah. Tabel MDA ini merupakan salah satu alat bagi kita untuk belajar kedisiplinan/konsistensi/kesinambungan/istiqomah dan sebagai cermin untuk melihat kekuatan dan kelemahan diri kita.  Insya Allah.


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat [41] : 30)


Baca Tulisan Lainnya:

Kamis, 18 Januari 2018

RENCANAKAN, REALISASIKAN DAN INTROSPEKSIKAN PERUBAHAN DIRI ANDA (Tulisan ke-3)

Perubahan merupakan suatu rangkaian proses perencanaan dan tindakan yang konsisten. Perubahan tidak terjadi secara instan dan kebetulan, tetapi harus direncanakan. Jika kita menginginkan perubahan diri yang berkesinambungan ke arah yang lebih baik (positif) maka diperlukan perencanaan, pelaksanaan/realisasi rencana dalam bentuk tindakan serta introspeksi diri secara kontinyu.

Pada 2 postingan sebelumnya, telah Saya jelaskan terkait Introspeksi Diri (Baca Tulisan ke-1: Introspeksi Akhir Tahun 2017dan terkait perubahan diri yang lebih baik/positif (Baca Tulisan ke-2: Perubahan Diri yang Lebih Baik (Positif) di Tahun 2018). Untuk postingan kali ini Saya akan memberikan salah satu alat/tools yang bisa digunakan untuk merencanakan, merealisasikan rencana serta mengintrospeksi diri terutama dalam hal amal ibadah.

Alat/tools itu  Saya namakan “TABEL MUHASABAH DIRI DAN AMAL (MDA)” Versi 1.0 dengan format microsoft excel yang diilengkapi dengan petunjuk pengisian/cara penggunaannya. Tahapan dalam pengisiannya mengakomodir 6 tahapan/langkah/cara menuju perubahan diri yang lebih baik sebagaimana tercantum pada postingan sebelumnya. Anda dapat mendownload/mengunduhnya pada link berikut ini: 

Unduh dalam Format Excel 97-2003 (.xls) = Download

Unduh dalam Format Excel 2007-2013 (.xlsx)  = Download

Muhasabah dalam kamus besar bahasa indonesia diartikan sebagai introspeksi yang  berarti peninjauan atau koreksi terhadap (perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya) diri sendiri; mawas diri.  Hakekat muhasabah tidak hanya terkait dengan mengingat dosa-dosa yang telah lalu kemudian menyesalinya, tapi juga memaksakan diri untuk taat melaksanakan semua perintah Allah -subhanahu wa ta'ala- dan menjauhi segala larangannya. 

Allah -subhanahu wa ta'ala- memerintahkan kita untuk merencanakan dan mengevaluasi diri sebagaimana tercantum dalam Al Quran Surah Al-Hasyr [59] : 18, yang berbunyi:

ياأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ( الحشر: 18)

Artinya : "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". 

Umar bin Al Khatab RA pernah berkata: “Haasibuu Anfusakum Qobla An Tuhasabu” yang artinya hisab/hitunglah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab/dihitung di hadapan Allah -subhanahu wa ta'ala-. Oleh karena itu kita perlu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dengan memperbanyak amal ibadah. Sehingga pada saat nanti kita dihitung (dihisab) dihadapan Allah -subhanahu wa ta'ala- insyaalllah kita tergolong  orang-orang yang beruntung. Aamin yaa rabbal ‘aalamiin. 



Baca Tulisan Lainnya:

Sabtu, 06 Januari 2018

PERUBAHAN DIRI YANG LEBIH BAIK (POSITIF) DI TAHUN 2018 (Tulisan ke-2)

“Semoga Tahun 2018 ini lebih baik dari Tahun 2017”.  Apakah ungkapan/doa tersebut merupakan harapan dan keinginan Anda juga di Tahun Baru 2018 ini?...  Dalam menyambut Tahun Baru 2018 tentunya kita memiliki sejumlah harapan dan keinginan. Sebagian kecil harapan dan keinginan tersebut mungkin telah kita raih di Tahun 2017, namun sebagian besar lainnya masih belum tercapai, kenapa? karena keinginan yang kita miliki sangat banyak dan tidak terbatas sedangkan kemampuan dan waktu kita dalam mewujudkannya sangatlah terbatas. 

Nah, ungkapan/doa tersebut diatas dapat mencakup semua harapan dan keinginan kita yang jumlahnya tidak terbatas.  Kalimat ”lebih baik” bisa meliputi berbagai sisi, baik itu keimanan, keilmuan, kesehatan, kedisiplinan, rezeki, finansial, karir dan lain-lain.  Lantas, apa makna yang terkandung dalam ungkapan/doa tersebut?  Ya…. maknanya terletak pada adanya “Perubahan Diri” ke arah yang lebih baik (positif) dari tahun sebelumnya. 

Perubahan Diri tidak selalu menuju ke arah yang lebih baik (positif) saja, namun dapat juga menuju ke arah yang lebih buruk (negatif) ataupun tidak ada perubahan sama sekali alias tetap (stagnan). Ketiga arah perubahan diri tersebut baik positif, stagnan maupun negatif memiliki konsekuensi masing-masing yaitu beruntung, merugi dan celaka, sebagaimana hadits Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wasallamyang artinya: “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka”.

Setiap orang pasti menginginkan keberuntungan (keberhasilan, kesuksesan dan kebahagiaan) dalam hidupnya baik di dunia maupun di akhirat.  Untuk itu Perubahan Diri yang berkesinambungan ke arah yang lebih baik (positif) mutlak diperlukan, jika tidak ingin masuk dalam kategori merugi atau celaka.  Mengingat Tahun Baru 2018 merupakan momentum yang sangat pas dan tepat untuk Perubahan Diri, maka sudah saatnya kita belajar dalam menentukan dan mengukur Perubahan Diri kita di Tahun 2018 ini.

Bagaimana caranya agar kita dapat menentukan dan mengukur Perubahan Diri kita?, Berikut ini 6 tahapan/langkah/cara yang dapat kita lakukan untuk menuju perubahan diri yang lebih baik di Tahun 2018 ini: 
1.  Tetapkanlah tujuan/resolusi Anda di Tahun 2018 ini, misalnya: (1) meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah -subhanahu wa ta'ala-, (2) meningkatkan kecintaan terhadap Al Qur’an, (3) meningkatkan kesehatan diri dan (4) meningkatkan wawasan dan keilmuan.
2.    Susunlah jenis aktivitas yang lebih detail/terperinci untuk masing-masing tujuan/resolusi tersebut, misalnya:
- Untuk resolusi ke-1 jenis aktivitasnya antara lain: Sholat Berjamaah, Sholat Dhuha, Sholat Tahajjud.
- Untuk resolusi ke-2 jenis aktivitasnya antara lain: Membaca Al Qur’an, Menghafal Al Qur’an.
-  Untuk resolusi ke-3 jenis aktivitasnya antara lain: Jalan, Jogging.
-  Untuk resolusi ke-4 jenis aktivitasnya antara lain: Membaca Buku.
3.    Buatlah komitmen diri Anda untuk masing-masing jenis aktivitas tersebut, misalnya:
- Untuk aktivitas pada resolusi ke-1, contoh komitmennya antara lain: Melaksanakan Sholat Wajib Berjamaah 5 waktu setiap hari, Melaksanakan Sholat Dhuha minimal 2 Rakaat setiap hari, Melaksanakan Sholat Tahajjud minimal 2 Rakaat setiap hari.
- Untuk aktivitas pada resolusi ke-2, contoh komitmennya antara lain: Membaca Al Qur'an minimal 1 Lembar setiap hari, Menghafal  Al Qur'an minimal 1 ayat setiap hari.
- Untuk aktivitas pada resolusi ke-3, contoh komitmennya antara lain: Melaksanakan jalan sehat dan jogging minimal 10 menit setiap hari.
- Untuk aktivitas pada resolusi ke-4, contoh komitmennya antara lain: Membaca 1 judul buku setiap minggu.
4.  Tetapkan target minimal maupun target pribadi untuk masing-masing aktivitas tersebut secara harian/mingguan/bulanan.
5.  Setelah target ditulis/ditetapkan maka tulislah hasil pelaksanaan/realisasi dari target masing-masing aktivitas secara disiplin setiap hari.
6.  Lakukan evaluasi internal terkait pencapaian diri kita terhadap pelaksanaan target  masing-masing aktivitas tersebut setiap hari/mingguan/bulanan.


Dengan melakukan 6 tahapan diatas insya allah kita dapat lebih memahami dan mengenal diri kita, mengetahui kelebihan dan kelemahan diri kita, mengembangkan potensi diri kita, meningkatkan disiplin diri kita  dan lebih mendekatkan diri kepada Allah -subhanahu wa ta'ala-.  Semoga kita tergolong ke dalam orang-orang yang beruntung baik di dunia dan di akhirat. Aamin yaa rabbal ‘aalamiin. Semoga bermanfaat….



Baca Tulisan Lainnya:

Minggu, 31 Desember 2017

INTROSPEKSI AKHIR TAHUN 2017 (Tulisan ke-1)

Dalam hitungan beberapa jam kedepan, Tahun 2017 akan pergi meninggalkan kita dan tidak akan pernah kembali lagi. Tanpa terasa di tahun 2017 kita telah menghabiskan 12 bulan, 365 hari, 52 minggu, 8.760 jam, 525.600 menit dan 31.536.000 detik.  Tentunya dari waktu tersebut ada banyak cerita, kenangan dan momen yang tercipta. Ada suka dan duka, tawa dan tangis, kekurangan dan kelebihan serta kesuksesan dan kegagalan.

Kesemuanya itu merupakan pengalaman berharga yang perlu digali hikmahnya untuk dijadikan bekal ilmu dalam meniti Tahun Baru 2018 yang lebih baik.  Untuk itu dibutuhkan introspeksi diri terutama dalam hal manajemen waktu. Marilah kita mencoba berhitung sejenak, berapakah waktu yang telah kita habiskan di Tahun 2017.

Sebagai ilustrasi, coba kita menghitung waktu untuk bekerja dan waktu tidur di Tahun 2017, sebagai berikut:
-      Waktu untuk bekerja: asumsi yang dipakai adalah waktu bekerja dalam sehari selama 8 jam dan jumlah hari kerja di Tahun 2017 sejumlah 344 hari (dikurangi 15 hari libur dan 6 hari cuti bersama) maka selama Tahun 2017 kita telah menghabiskan 32 % waktu kita untuk bekerja atau sekitar 4 bulan, 115 hari, 16 minggu, 2.752 jam, 165.120 jam dan 9.907.200 detik.
-          Waktu untuk tidur: asumsinya jika kita tidur dalam sehari selama 8 jam maka di tahun 2017 kita telah menghabiskan 33 % waktu kita untuk tidur atau sekitar 4 bulan, 122 hari, 17 minggu, 2.920 jam, 175.200 jam dan 10.512.000 detik.

Dari kedua penggunaan waktu tersebut diatas (bekerja dan tidur) jika ditotal maka selama Tahun 2017 kita telah menghabiskan 65 % waktu kita untuk tidur dan bekerja atau total sekitar 8 bulan, 237 hari, 33 minggu, 5.672 jam, 340.320 jam dan 20.419.200 detik.  Untuk selanjutnya Anda dapat mengitung sisa waktu yang Anda gunakan untuk melakukan aktivitas lainnya.

Setelah mendapatkan alokasi waktu Anda selama setahun, maka coba munculkan pertanyaan-pertanyaan berikut ini: Apakah penggunaan waktu kita selama Tahun 2017 sudah efektif? Apa saja perubahan positif yang terjadi pada diri kita? Apa pencapaian/prestasi yang telah kita raih? Apa kontribusi yang telah kita berikan kepada lingkungan kerja atau lingkungan tempat kita berada? Apakah kekuatan dan kelemahan diri kita dalam memanfaatkan waktu?.

Munculkan pula pertanyaan lain ke dalam diri kita “Bagaimana kita memanfaatkan waktu 24 jam dalam sehari semalam yang telah diberikan Tuhan kepada kita?, sudahkah kita memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, atau malah sebaliknya, kita lebih banyak membuang-buang waktu, membiarkan waktu berjalan apa adanya dalam rutinitas sehari-hari, tanpa perencanaan/pemrograman/perhitungan”. 

Sebagian besar dari kita abai terhadap waktu, tidak terlalu peduli terhadap waktu, bahkan kita sampai melupakan waktu. “Gak kerasa ya udah kerja sekian tahun, padahal rasanya baru kemarin masuk kerja? Gak kerasa udah punya sekian anak, padahal rasanya baru kemarin menikahnya? Gak kerasa umurnya udah sekian tahun, padahal rasanya baru kemarin lulus sekolah/kuliah?” Itulah beberapa contoh ungkapan kita menyikapi waktu yang sangat cepat berlalu.

Waktu merupakan modal penting dalam kehidupan manusia, saking pentingnya waktu, Allah SWT bersumpah atas nama waktu sebagaimana tercantum dalam Al Quran Surah ke Al ‘Ashr (103): 1-3:


(1) Demi masa, (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr [103]:1-3).

Untuk itu kita harus pandai merencanakan dan memanfaatkan waktu kita dengan sebaik-baiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, mampu menghubungkan seluruh aktivitas duniawi kita dengan pahala kebaikan akhirat serta dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk orang  lain.

Mengingat saat ini kita telah sampai di penghujung Tahun 2017, maka apapun hasil introspeksi diri kita harus kita terima dengan berbesar hati dan tanpa ada rasa penyesalan sedikitpun. Hal-hal yang positif kita tingkatkan sedangkan hal-hal yang negatif kita benahin. Saatnya kita rancang resolusi baru di Tahun Baru 2018 untuk meningkatkan derajat kita di Tahun 2018 baik derajat dunia maupun derajat akhirat.